Showing posts with label relationship. Show all posts
Showing posts with label relationship. Show all posts

14.2.12

Would you be my valentine?

Not a garden of blossoming roses,
Nor a book of sentimental prose,
Just a simple truth of what's on my mind,
Tell me, dearest creature, would you be my valentine?


                                              Bandung, 14 Februari 1999


23.1.10

Romantis harus berdua?

Beberapa waktu lalu pas lagi browsing channel tv, saya ngeliat tayangan tentang Maldives di Discovery Travel & Living (DTL). Saya, seperti beach-lovers lainnya, selalu memimpikan bisa liburan di Maldives, jadi berhentilah remote di DTL. Hampir 30 menit gambar2 cantik memenuhi layar, bikin saya ngacay ngga berenti2. Tapi ada satu yg mengganjal, hostnya kayak setengah hati gitu bawain acaranya.

Kenapa setengah hati? Karena dia berkali2 nyebut soal kesendiriannya, rutinitas sehari2 yg membosankan, betapa susahnya ngejalin relationship buat travel reporter kayak dia. I was like, geez, dia punya THE BEST job in the world dan sedang berada di THE BEST place in the world, tapi masih sempat ngeliat sisi negatifnya :p

Saya tau apa yg dia bilang emang bener: "Saya berada di tempat paling romantis di dunia namun saya merasa kesepian. Ternyata romantisme tidak ditentukan oleh di mana kita berada, tapi dengan siapa kita bersama." Tapi ini Maldives maaannn... :)

On a lighter note, mungkin itu semua emang settingan aja, he3x. Sengaja ditonjolin kesendirian dia, biar orang tambah ngeliat betapa romantisnya Maldives. After all, happiness is not something you find, but rather something you create, right?

5.6.09

Single happy

Sebenernya saya udah beberapa kali denger lagu ini diputer, dan saya pikir lagu ini kayak lagu ngga penting lainnya. Apalagi bagian reffrain-nya yang: I'm single and very happyyy... Plis deh, ngga perlu bikin lagu dan ngasih pengumuman ke seluruh dunia buat negesin bahwa being single doesn't mean unhappy.

Dua hari yang lalu, di atas busway menuju kantor, saya pasang DAP ke kanal radio lokal yang banyak muter lagu-lagu Indonesia. Pas giliran lagu ini dimainkan, saya coba dengerin dengan seksama, eh ternyata lumayan lho. Liriknya puitis tanpa ngoyo, melodinya juga mengalir enak. Saya ngga pernah suka Oppie dan saya rela dibilang jayus, tapi saya terpaksa bilang bahwa I can totally relate to this song, hahahahha :D


So sing with me...

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian
Terlalu keras menjalani hidup
Beribu nasehat dan petuah yang diberikan
Berharap hidupku bahagia

Aku baik-baik saja
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
I’m single and very happy

Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

Mereka bilang sudah saatnya karena usia
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi ku yakin akan datang pasangan jiwaku
Pada waktu dan cara yang indah

I’m single and very happy

Waktu terus berjalan
Tak bisa ku hentikan
Ku inginkan yang terbaik untukku



5.3.09

Broken heart syndrome

Ngga, saya bukan lagi menye-menye mode ON.

Minggu lalu, saya nonton filem seri House, M.D. season 3 episode 11, tentang seorang pemadam kebakaran bernama Derek yang ngalamin 2 kali serangan jantung. Setelah dirunut, dua kejadian itu punya 1 kesamaan: Derek lagi dijenguk Amy, rekannya sesama pemadam kebakaran. Di depan tim Dr. House, Derek ngaku klo dia dari dulu suka sama Amy, tapi dia ngga bisa ngungkapin karna Amy adalah tunangan kakak Derek. Tim Dr. House berkesimpulan bahwa Derek terkena Broken Heart Syndrome (Takotsubo Cardiomyopathy), yakni gagal jantung akibat otot jantung yang tiba-tiba melemah. Melemahnya otot jantung ini bisa disebabkan oleh stres secara emosional, misalnya kematian orang yang dicintai, hence the name: Broken Heart Syndrome.

Derek ngga bisa memiliki Amy, sementara tiap ketemu Amy dia (beresiko) kena serangan jantung. Tim Dr. House berunding, dan ketemu solusinya: semua memori Derek tentang Amy harus dihapus. Dzing, di sini ingetan saya balik ke filem Eternal Sunshine of the Spotless Mind, salah satu filem paling romantis yang pernah saya tonton. 

Di Eternal Sunshine, Kate Winslet & Jim Carrey bermain jadi sepasang kekasih. Pada suatu titik dalam hubungan mereka, Winslet merasa ngga bahagia, dan memutuskan untuk menghapus semua kenangan tentang Carrey, termasuk tentang kisah cinta mereka. Di filem itu digambarkan ada perusahaan yang khusus menyediakan jasa penghapusan memori (termasuk "pelenyapan" barang/memorabilia yang berhubungan dengan orang/kejadian yang akan dihapus). Prosedur yang dilakukan cukup sederhana, yakni terapi kejut listrik untuk menghapus bagian-bagian memori yang tidak diinginkan, dan ngga menyentuh bagian memori yang lain. 

Dulu saya pikir filem Eternal Sunshine murni fiksi, ternyata beneran ada ya terapi kejut listrik untuk ngobatin penyakit kejiwaan, termasuk menghapus memori yang mengancam jiwa seseorang. Tapi mungkin kita ngga bisa milih, mana memori yang disimpan dan mana yang dihapus. Klo gitu mah enak benerrr, tiap ada kejadian buruk (atau ketemu orang yang rese) tinggal diapus aja memorinya, hehehe...


6.1.09

(Akan) menikah bikin orang jadi (sok) bijaksana

Weekend minggu lalu, saat santai-santai sambil nonton TV, ada buzz yang masuk ke akun YM saya. Sebut saja pengirimnya X, temen sealmamater beda angkatan dan jurusan, tapi jadi kenal gara-gara chatting di server kampus. Saya pernah ngenalin X ke temen SMA saya, tapi kayaknya dia kurang berminat, dan habis itu saya jadi agak ngga respek sama dia (hahaha, jadi comblang kok maksa :p).

Kami emang jarang chat panjang-lebar, paling cuma basa-basi bentar. Di antara interaksi kami yang ngga banyak itu, dia kadang nanyain status saya (kayak di fs/fb tuh: single, in a relationship, dsb). Jujur, klo saya ditanya status, yang ada di otak saya cuma 3, either orang ini:
- catching up
- flirting
- minta ditanya balik
Catching up harusnya hanya dilakukan sekali dalam jangka waktu yang lama, misalnya udah beberapa tahun ngga ketemu, wajar klo saling bertanya: udah merid belom? anaknya berapa? Gitu gitu deh. 

Sama si X ini saya masih kadang ngobrol, jadi ngga masuk kategori catching up. Flirting juga ngga mungkin, klo iya mah udah dari dulu-dulu kali. Jadi kemungkinan ya dia cuma pengen ditanya balik soal statusnya. Kadang sih saya ikutin maunya dengan nanya mau liburan ke mana? Sama siapa? (Semalam berbuat apa? *Kangen Band mode ON*) Tapi kok jawabannya mengesankan dia sok mau nutupin statusnya, ya lama-lama saya bosen juga.

Eniwei, pas weekend itu, dia PM untuk ngasih tau klo dia berharap saya dateng ke pernikahannya. Saya senang, tentunya, dan berjanji bakal dateng klo ngga ada halangan. Obrolan berlanjut, saya tanya kenal calon  istrinya di mana (standar lah, cuma pengen tau apa ini temen sekampus juga atau ngga), dan dia jawab klo mereka kerja di grup perusahaan yang sama, belum lama pacaran dan langsung mutusin untuk merid. Trus dia balik nanya status saya, dan saya jawab dengan seadanya (maksudnya sesuai keadaan sekarang :p).

Kalimat terakhirnya dong yang masih terngiang-ngiang sampe sekarang: 

Sabar aja Din, jodoh pasti dateng pada waktu yang tepat. Gw juga gitu kok...

Jiyaaaaaaah, klo dia ada di depan saya, pasti saat itu juga saya bakal ngegetok kepalanya sambil bilang: "Lagak lo duuul..."
 

5.12.08

Cinta lagi... cinta lagi...


Semalem saya nonton Twilight. Bikin ngiler ya bow, punya pacar yang luar biasa ganteng, punya kekuatan super, dan tergila-gila sama kita. Hahaha, lumayan menghibur lah, setelah keputusan males-pulang-cepet,-ke-bioskop-dulu-aaah saya sebelumnya berakhir dengan kekecewaan akibat filem ngga jelas berjudul P2.

Heniwei, sebenernya kemaren siang saya lagi baca novel Sex and the City. Setelah sekian jam dicekoki tulisannya Candace Bushnell tentang kecenderungan relationship masa kini, saya mulai mengamini gituh. Salah satu bagian yang menurut saya menarik adalah waktu teman pria Bushnell ngomong gini: 

The problem is expectations. Older women don't want to settle for what's still available. They can't find guys who are cool and vital, so they say screw it—I'd rather be alone. No, I don't feel sorry for anyone who has expecta­tions they can't meet. I feel sorry for the loser guys who these women won't look at. 

What they really want is Alec Baldwin. There isn't one woman in New York who hasn't turned down ten wonderful, loving guys because they were too fat or they weren't powerful enough or they weren't rich enough or indifferent enough. But those really sexy guys the women are holding out for are interested in girls in their mid-twenties. Why don't those women marry a fat guy? Why don't they marry a big, fat tub of lard?

Dan temen wanita Bushnell ngomong gini:

I'll tell you why. I've gone out with some of those guys—the ones who are short, fat, and ugly—and it doesn't make any difference. They're just as unappreciative and self-centered as the good-looking ones.

Hahaha, she's got a point, right? :)

Dan Twilight jadi penutup yang manis hari itu. Saya kayak dikembalikan ke dunia nyata, bahwa masih ada kok cinta yang ngga perhitungan, ngga palsu, ngga mandang fisik (meski semua vampir di filem itu digambarkan dengan cantik-ganteng, mwahahaha), ngga mikirin ke depannya nanti bakal gimana. Twilight nyisain senyum di bibir saya sebelum tidur, sambil bayangin si vampir ganteng mampir dalam mimpi saya.

Tapi paginya saya baru nyadar, klo yang maen jadi vampirnya jelek, apa filemnya bakal semenarik itu? :D

(poster diambil dari situs MTV)

7.1.08

[Pelupa Akut] Welcoming Valentine

Valentine Competition

Pagi ini pas lagi iseng buka salah satu situs resto review, pandangan mata saya tertuju pada banner gede di halaman indeks-nya, tentang kompetisi foto pasangan yang berhadiah dinner romantis di jakarta. Reaksi pertama saya adalah buka folder my pictures di PC saya buat nyari foto mana yang mau saya kirim.

Setelah 1..., 2..., 3 detik kemudian, saya baru sadar: saya kan JOMBLO! Hekekeke, dudul banget yah, masa sampe lupa sama status sendiri. Sempat kepikiran buat ngirim foto saya sama adek saya *hohoho*, cuma aturan kompetisinya dengan jelas menulis "send couple pictures and convince us why we should pick you as the most romantic couple of 2008". Saya mungkin modis (modal diskon) dan motis (modal gratis), tapi saya ngga butuh curang buat menang undian.

Anyway setelah dipikir-pikir, klo saya menang pun, saya juga ngga bisa pake tuh hadiah. Wong saya udah punya other (and definitely better) plan buat 14 Februari besok!


So, Happy (early) Valentine's Day!
*sebelum saya lupa atau ngga bisa bales ucapan Valentine dari sahabat-sahabat terkasih*



18.5.07

Mas, Mas, Pacarnya Mbokya Disekolahin :p

Cemburu nih ye...
Rabu kemarin, saya harus mengunjungi bank di cabang ex-kantor saya di Cawang. Otomatis, saya langsung kirim email ke sahabat-sahabat lama saya, janjian untuk makan siang bareng. Rabu pagi-nya, saya confirm by phone ke salah satu dari mereka, sebut aja A. Intinya deal, tapi berhubung temen-temen saya banyak yang lagi tugas ke luar kota & luar negri, jadi cuma 4 - 5 orang yang standby di HO.

Selang berapa menit, saya terima telpon di nomer Esia saya. Di sebrang ada suara cewek, dan pembicaraannya kurleb begini (D = saya):
X: Halo...
D: Ya?
X: Ini Dinda ya?
D: Iya
X: Dinda habis telp A ya?
D: A siapa ya? *saya kebetulan lagi banyak kerjaan, jadi ngga konsen ngingetin sapa aja yang abis saya telepon*
X: A... K... (nama panjang sahabat saya itu)
D: Owh, iya. Emang kenapa?
X: Ada urusan apa telp A?
D: Gw dulu temen kantornya dia. Kebetulan nanti siang gw ada urusan di gedung I, jadi gw ajak temen-temen gw makan siang bareng, termasuk A.
X: Lain kali ngga usah telpon A lagi ya. Ngga usah ngajak ketemuan, apa lagi makan siang bareng.
D: *shocked* Gw kan ngga ngajak dia doang, wong makan siangnya rame-rame kok.
X: Ngga usah deh, kan bisa makan sama yang lain. Yah? Lain kali ngga usah telpon2 A lagi yah?
D: *masih shocked*
D: *berpikir demi kelangsungan masa depan sahabat saya itu*
D: OK deeeeh... *pake gaya ceria yang sangat dibuat-buat*

Herrrran, hare gene masih ada cewek yang posesif sampe segitunya. Parahnya lagi, cewek itu ngirim SMS bernada ngga enak ke nomer Esia saya yang lama, yang udah saya hibahkan ke sahabat saya. Kontan sahabat saya langsung nge-forward SMS itu ke saya. Hihihihihi, mau marah, bete, kesel, ketawa, campur aduk deh, apalagi baca bahasa SMS-nya yang ABG mode (huruf & angka dicampur, huruf besar dan kecil dicampur) dan penuh emosi.

Waktu makan siang bareng, saya tunjukin SMS itu ke sahabat-sahabat saya, dan mereka ikutan ngakak bareng saya. "Gile bahasanya... Kesannya kayak lo tuh cewek apaan gituh," komen salah seorang sahabat. Saya ngga simpen SMS-nya (di folder Archive saya, isinya cuma SMS promo dari Esia), tapi intinya sih dia ngga mau saya kontak, either telp, SMS, maupun ketemuan sama A. Trus dia juga ngingetin klo saya mau makan pagi, siang, malem (beneran dia nulis gitu lho), ngga usah ngajak-ngajak A, toh saya masih bisa ngajak COWOK-COWOK yang lain :))

Berhubung A sibuk (atau mungkin juga ngga diijinin ama pacarnya ituh :p), A ngga ikutan acara maksibar. Sorenya waktu saya udah balik ke kantor, A telp saya, ngejelasin semua. Seperti saya duga, A ketauan selingkuh, dan pacarnya langsung masang pager kawat berduri di sekeliling kekasih tercintanya itu. Duh, capek deh. Saya kan ngga pernah ganggu kehidupan pribadinya, kenapa saya yang jadi korban? Klo emang ngga bisa terima pacarnya selingkuh, mending putusin aja kaleee, ngga usah nyemprot semua orang yang nelpon cowoknya :pfoto diambil dari hxxp://ghettodriveby.com/jealous/


23.11.06

Balada Cinta

Maybe some women aren't meant to be tamed.
Maybe they're supposed to run wild until they find someone -- just as wild -- to run with.

(Carrie Bradshaw, Sex and the City)

Minggu lalu, sahabat saya memilih untuk mengijinkan cinta membawanya berlabuh. Cuma butuh 3 bulan buat dia untuk nemuin this someone. Mungkin bukan someone just as wild to run with, tapi meski begitu, dia memilih untuk ngga jadi runaway bride (lagi). Surrender ngga berarti kalah, karna cinta dan pernikahan bukan kompetisi. Hmmm...

Berita pernikahannya saya sebarkan di milis kami, dengan mengutip sebuah puisi (lagi-lagi dari Sex and the City) sebagai salam pembuka:


His hello was the end of her endings,
Her laugh was their first step down the aisle
His hand would be hers to hold forever
His forever was as simple as her smile

He said, she was what was missing
She said instantly she knew
She was a question to be answered
And his answer was I do


Liontin


Saya pilihkan liontin berbentuk hati as my token of love. Meski saya tau, suvenir kecil ini ngga ada artinya dibanding all the love she has given me.

Farewell my two-heads-are-equal-with-none partner, selamat memasuki another phase in your life ^_^



P.S.: On her wedding day, untuk pertama kalinya dia bisa ngomong: "Lo kapan nyusul?"
*SIAAAAAAAAAAAAAAAAAALLLLLLLLLLL*


20.10.06

A Tale of Two Chairs

Dinner pertama saya dengan pacar (sekarang sudah mantan), saya diberi tahu mengenai aturan tentang seating arrangement. Menurut dia, status dari dua orang yang sedang makan bersama bisa dilihat dari posisi duduk mereka: berhadap-hadapan untuk yang just friends atau masih pdkt, dan bersebelahan untuk sepasang kekasih. Saat itu kami, tentu saja, duduk bersebelahan.

Sejak itu setiap makan di luar, saya sering memperhatikan posisi duduk orang-orang di sekitar saya, sambil menebak-nebak apakah mereka couples atau sekedar teman. Yang agak sulit adalah jika meja makan memang didesain untuk dua orang dan posisi kursinya berhadap-hadapan, saya harus pakai deduksi aja :)

Sejauh pengamatan saya, kayaknya ngga semua orang bersikap sejalan dengan unwritten rule ini. Ada orang yang saklek, ada yang agak longgar, ada juga yang kayaknya ngga tau *atau pura-pura ngga tau?*

Saya sempat sebel sama orang yang saklek waktu kami lagi makan di Celcius, Plasa Semanggi. Kursi Celcius tuh bentuknya sofa single yang rendah banget, jadi posisi meja di atas dada. Klo kami duduk berhadapan, saya yakin ngga akan bisa ngobrol karna sofa & mejanya gede, jadi saya ambil inisiatif untuk duduk di sebelah dia. And guess what? Dia malah pindah duduk ke seberang saya. Hahahaha, saking betenya saya waktu itu langsung ambil koran aja. Jadi selama nunggu makan, saya baca koran dan dia ngutak-ngatik PDA-nya, sementara waktu makan, kami juga hampir ngga ngobrol sama sekali. Ngga worth it, wong suara kami terbenam sama mp3 yang disetel di dalem resto.

Ada juga yang ngga tau, mau posisi kursinya enak-ngga enak, teuteup aja duduk di sebelah saya. Mungkin karna saya helplessly adorable *narsis mode ON*, tapi saya lebih mikirnya sih karna dia lebih nyaman duduk deketan, supaya ngobrolnya enak.

Yang paling OK tentunya yang ikut aturan, tapi agak longgar. Dalam kondisi standar, sang sahabat akan duduk berseberangan dengan saya. Tapi, untuk kondisi ekstrim *contohnya di Celcius tadi*, dia akan duduk di sebelah saya. Komunikasi bisa berjalan lancar, dan kami berdua sama-sama senang. Win-win solution laaah...

Dalam prakteknya, saya ngga seratus persen ngikutin aturan ini. Klo sama pacar sih OK lah ya, pasti duduk sebelahan (kecuali kursinya ngga memungkinkan), tapi di luar itu ya tergantung mood. Untuk teman yang udah deket banget, saya biasa lebih prefer duduk sebelahan, biar ngobrolnya seru. Tapi klo belom terlalu kenal atau lagi ngga mood ngobrol *which is veeeeery seldom :p*, saya pilih duduk berhadapan aja.



ShareThis

 
template by suckmylolly.com